Tampilkan postingan dengan label POLITIK. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label POLITIK. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 29 April 2017

Terbongkar..!! “Rachmawati: Tersangka Utama Skandal BLBI adalah Megawati”

Terbongkar..!! “Rachmawati: Tersangka Utama Skandal BLBI adalah Megawati”






Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) telah menetapkan mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Arsyad Temenggung sebagai tersangka kasus Surat Keterangan Lunas (SKL) Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI)







Dalam keterangan yang disampaikan hari Selasa lalu (25/4), Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan mengatakan, pihaknya telah menemukan bukti permulaan yang kuat dalam kasus ini.







Menyusul krisis moneter yang terjadi pada 1997 dan 1998, BI mengucurkan bantuan untuk menjamin likuiditas sebanyak 48 bank yang bangkrut akibat krisis. Total bantuan yang dikucurkan sebesar Rp 147,7 triliun. Belakangan, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) mengatakan, tak kurang dari Rp 138,4 triliun dari total bantuan itu menguap tidak jelas.










Penetapan Syafruddin Arsyad Temenggung sebagai tersangka kasus SKL BLBI, menurut tokoh nasional Rachmawati Soekarnoputri, kurang tegas dan kurang memperlihatkan rasa keadilan.







Bagaimanapun, sebut putri Bung Karno itu, Syafruddin adalah pelaksana dari sebuah peraturan yang memungkinkan SKL diberikan kepada debitur BLBI yang bandel.







Peraturan yang dimaksud Rachma adalah Inpres 8/2002 tentang Pemberian Jaminan Kepastian Hukum kepada Debitur yang Telah Menyelesaikan Kewajibannya atau Tindakan Hukum kepada Debitur yang Tidak Menyelesaikan Kewajibannya Berdasarkan Penyelesaian Kewajiban Pemegang Saham.







Inpres 8/2002 itu ditandatangani Megawati Soekarnoputri, presiden ketika itu, pada tanggal 30 Desember 2002.







“Ini adalah bonggol dari persoalan SKL BLBI. Kepala BPPN hanya menjadi pelaksana dari kebijakan yang diputuskan dia (Megawati) sebagai presiden,” ujar Rachma di sela menghadiri pernikahan putri Komandan Komando Pendidikan dan Latihan (Kodiklat) TNI Letjen Agus Sutomo, di TMII, Jumat malam (28/4).







“Syaf, kalau pun bersalah, kesalahannya adalah karena mengikuti Inpres yang ditandatangani Mega,” ujarnya lagi.







Karena itu, mantan anggota Dewan Pertimbangan Presiden ini berharap KPK tidak berhenti pada pejabat yang melaksanakan kebijakan.







Di sisi lain Rachma berharap agar upaya mengungkap megaskandal ini tidak sekadar dijadikan alat tawar menawar menyusul wacana kocok ulang kabinet.







“Jangan sampai upaya kali ini hanya dijadikan tekanan ke arah reshuffle kabinet. Ini harus tuntas. Mega tersangka utama, dan harus bertanggung jawab,” demikian Rachma.










sumber >> repelita.com

Siapapun Yang Melanggar aturan Akan Kami tindak Tegas ! Jangan Salahkan Polisi Tembak Keluarga di Lubuklinggau







Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Tito Karnavian menyesalkan peristiwa seorang prajuritnya, yang menembaki satu keluarga dalam mobil di Lubuklinggau, Sumatera Selatan.



Namun, dia tak menyalahkan sepenuhnya tindakan itu, karena polisi memiliki kewenangan diskresi, atau kebebasan mengambil keputusan sendiri dalam setiap situasi yang dihadapi.




"Saya menyesalkan peristiwa di Lubuklinggau. Tetapi, tidak menyalahkan sepenuhnya, karena anggota Polisi itu mempunyai kewenangan diskresi, mulai tingkatan paling bawah hingga paling atas. Termasuk saya, sebagai pimpinan tertinggi Polisi," kata Tito, saat berada di Palembang, Jumat 28 April 2017.



Tito berpendapat, peristiwa penembakan yang menyebabkan dua orang tewas itu juga akibat kesalahan Gatot, alias Diki (30 tahun), sopir mobil Honda Civic yang berisi satu keluarga di dalamnya. Diki malah menghindari razia polisi ketika itu, lalu aparat mencurigainya sebagai pelaku kejahatan, sehingga harus dihentikan.


Dia mencontohkan peristiwa yang hampir serupa di Tuban, Jawa Timur, pada 8 April 2017. Saat itu, polisi setempat menggelar razia dan mencoba memeriksa sebuah mobil. Tetapi, mobil itu malah menerobos razia. Setelah dikejar, ternyata di dalam mobil itu ada enam orang terduga teroris yang bersenjata lengkap.


"Tetapi, untung yang di Lubuklinggau. Nanti, kita lihat apakah ada kekuatan (alasan kuat) untuk mengeluarkan tindakan, atau tidak. Pelat mobilnya juga palsu, sehingga lari dan tidak mau disetop" ujar Tito.



Korban penembakan oknum polisi bertambah dari seorang menjadi dua orang. Korban pertama ialah Surini (54 tahun), yang tewas di lokasi penembakan pada Selasa pagi, 18 April 2017. Dia terluka tembak di dada, perut, dan paha.



Korban kedua adalah Indra (35 tahun), yang terluka tembak cukup parah di bagian leher. Dia sempat dirawat di Rumah Sakit Sobirin Mura di Lubuklinggau, lalu dirujuk ke Rumah Sakit Muhammad Husein Palembang. Namun, Indra tak dapat ditolong dan meninggal dunia pada Senin pagi, 24 April 2017.



Dua korban lain, yakni Novianti (30 tahun) dan Dewi (35 tahun), dinyatakan sehat walafiat, setelah dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara, Palembang. Mereka diizinkan pulang ke rumahnya pada Selasa 25 April 2017. Novianti mengalami dua luka tembak di lengan kanan, sedangkan Dewi terkena satu luka tembak lengan kiri.



Gatot alias Diki (30 tahun), sopir mobil yang dikendarai satu keluarga itu, juga dinyatakan membaik, setelah operasi bedah untuk mengeluarkan satu proyektil peluru yang bersarang di perutnya. Namun, dia masih dirawat di ruang intensive care unit di Rumah Sakit Sobirin Mura di Lubuklinggau.






Sumber >> http://www.posmetro.info/2017/04/kapolri-tak-salahkan-polisi-tembak.html

Jumat, 28 April 2017

Ancaman Keras !!! Prabowo Mengancam Akan Bertindak Tegas Jika Ahok Tidak Menonaktifkan Password APBD Untuk Anies..!!

Ancaman Keras !!! Prabowo Mengancam Akan Bertindak Tegas Jika Ahok Tidak Menonaktifkan Password APBD Untuk Anies..!!






Prabowo Subianto Ketua Partai Gerindra sekaligus yang mengusung Anies-Sandi sebagia gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta mengatakan ingin bertindak jika Ahok masih tetap menahan password APBD.





Seperti yang kita ketahui bahwa Ahok telah mengunci sistem dana APBD yang hanya diketahui oleh 3 lembaga saja yaitu Gubernur, BPK dan KPK. Dijelaskan oleh Djarot Syaiful Hidayat bahwa Tidak ada pihak yang bisa membongkar APBD DKI 2017 untuk kepentingan tertentu karena sudah dikunci.





Demikian ditegaskan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat menjawab wartawan terkait dengan kemungkinan APBD DKI dibongkar lagi setelah dipastikan adanya pergantian pimpinan di Balai Kota DKI.





"Kami dengan Pak Gubernur Basuki Tjahaja Purnama punya tanggung jawab sampai Oktober 2017. Sebab itu, kita kunci APBD supaya tidak dibongkar. Semua program akan tetap berjalan," kata Djarot di Balai Kota DKI, kemarin.




Mantan Wali Kota Blitar tersebut yakin program yang sudah direncanakan tetap berjalan karena juga didukung DPRD DKI.





"Kami menjaga hubungan baik dengan DPRD DKI. Sebagian besar teman kami di partai. Ketua DPRD juga dari PDI Perjuangan. Jadi kami akan berkoordinasi dengan DPRD DKI memastikan apa yang kami programkan itu bisa tetap diteruskan," tuturnya.





Mengenai program apa saja yang bisa disinergikan dengan Anies Baswedan selaku penguasa baru, Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama mengaku belum membahas secara rinci apa saja yang akan masuk Rancangan APBD 2018.




Dalam pertemuan keduanya di Balai Kota DKI, Kamis (20/4), pembicaraan masih sebatas upaya mendinginkan suasana politik di Jakarta.




Semua masyarakat dan pendukung diminta menciptakan suasana aman dan jangan sampai terpecah.




"Kami cuma membicarakan bagaimana pendukung masing- masing tidak ribut," imbuhnya.




Tentunya hal ini akan menjadi bumerang buat kubu anies-sandi terutama Prabowo, semuanya menjadi kacau balau setelah Sandiaga Uno mengingatkan kembali tentang dana yang sudah dikeluarkan selama kampanye, diputaran pertama saja Sandi menghabiskan dana sebesar 64M, dan diputaran kedua sebesar 17M.







sumber >> suarankri.net

GEMPAR..!! Anies: Tolong Dibereskan Sebelum Gubernur Baru Masuk.!!

Anies: Tolong Dibereskan Sebelum Gubernur Baru Masuk




Calon gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, meminta Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama- Djarot Saiful Hidayat menyelesaikan semua pekerjaannya di Jakarta sebelum berakhir masa jabatan.




Anies berharap Ahok- Djarot tidak mewariskan masalah pada gubernur-wakil gubernur setelahnya.
"Tolong dibereskan dulu sekarang, sebelum gubernur baru masuk. Jadi saya itu pengin, jangan sampai PR-PR itu, sudah biarin nanti gubernur baru yang ngurusin, jangan. Diberesin dulu sekarang, gubernurnya belum ganti, masih enam bulan," kata Anies, saat ditemui di rumahnya, Jalan Lebak Bulus Dalam, Jakarta Selatan, Jumat (28/4/2017) siang.




Anies menuturkan, beberapa pelanggaran kerap dilakukan sejumlah warga yang menolak atau tidak tahu pada aturan yang berlaku. Dia mencontohkan munculnya juru parkir liar di ruang publik terpadu ramah anak (RPTRA) Kalijodo.




Menurut mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu, Ahok-Djarot harus lebih tegas untuk menyelesaikan parkir liar di Kalijodo.




"Untuk yang masih bertugas, ditegakkan aturannya gimana, ditegakkan. Jangan sudahlah nanti gubernur baru yang ngurusin," tutur Anies.






Terkait Pilkada DKI Jakarta 2017, pasangan Anies-Sandi unggul dalam perolehan suara putaran kedua dari pasangan petahana Ahok-Djarot berdasarkan hasil real count formulir C1 atau sertifikat hasil penghitungan suara yang dilakukan KPU DKI Jakarta melalui Sistem Informasi Penghitungan Suara (Situng).




Melalui sistem itu, Anies-Sandi diketahui memeroleh 57,95 persen suara, sedangkan pasangan Ahok-Djarot meraih 42,05 persen perolehan suara.




Anies-Sandi unggul di semua wilayah di DKI Jakarta berdasarkan hasil real count formulir C1 tersebut.




Sumber >> nkribersatu.com

MENGEJUTKAN..!!! Cerita Dibalik Rencana Kemenangan Ahok-Djarot yang Gagal Total dan Tak Kunjung Move On

MENGEJUTKAN..!!! Cerita Dibalik Rencana Kemenangan Ahok-Djarot yang Gagal Total dan Tak Kunjung Move On





Sejak pagi ruang konperensi pers di Hotel Pullman, jalan Thamrin Jakarta, sudah usai berdandan. Ballroom yang menjadi Posko Pemenangan itu sudah dipesan hari sebelumnya.
Panggung dihias dengan kalimat KEMENANGAN.








Gambar bendera 6 partai pendukung Paslon nomor 2 berjejer rapi di bagian bawah spanduk yg lebar.
Lambang2 partai itu mengusung sebuah Tulisan warna hitam di atasnya: '#Ba2ukiDjarotMenang'. Sebuah perpaduan huruf dan angka warna hitam nan kontras yg tercetak di atas sebentang besar kain putih.




Tulisan itu dimaksudkan untuk menjadi Hashtag Kemenangan. Karena beberapa jam ke depan, bisa dipastikan hashtag #Ba2ukiDjarotMenang akan memuncaki Trending Topic Dunia di medsos.





Di atas 2 meja panjang bagian depan, telah digelar Taplak bermotif Kotak-Kotak berlipit indah. Disisinya berjejer rapi kursi-kursi yg akan diduduki Paslon Pemenang dan Para Ketua Partai Pengusung.



Motif taplak itu persis sama dng motif baju kotak-kotak, yg selama ini diyakini begitu lekat membawa Aura Kemenangan.


Di sudut-sudut ruang, Sound System telah siap membahanakan Pekik Kemenangan.




Semua membayangkan, Rumah Lembang yg kerap penuh dengan gelak tawa itu, tak akan ada apa2 nya dibandingkan dng suasana riuh gembira siang nanti.




Bagai halaman Rumah Pegangsaan yg legendaris itu, Ruang tempat akan diproklamasikannya Kemenangan Ahok-Djarot inipun, akan menjadi Saksi Sejarah sebuah Kemenangan Pilkada yg sangat mengharu-biru.



Sebuah Pertarungan yg menghabiskan tenaga, suara, sembako, sapi, dan kursi roda.





Betapa sebuah Kemenangan Pilkada rasa Pilpres telah di ambang mata.





Siang itu, di ruang itu, sebuah skenario yg rapi, rekaman pemandangan yg indah, dan rencana perayaan meriah, telah selesai dipersiapkan.




Tak jauh dari Hotel megah itu, hanya berjarak sepelemparan pandang, Bundaran Hotel Indonesia pun akan disesaki pemandangan kotak-kotak merah hitam.





Relawan yg diwawancarai stasiun televisi menyebutkan, ribuan manusia dari berbagai penjuru telah bersiap datang ke tempat itu. Transportasi dipesan. Atribut2 sudah di tangan. Spanduk siap untuk dibentangkan.





Ia mematangkan rencana untuk mengambil alih lokasi itu lebih dahulu, sebelum dikuasai oleh kubu lawan.




Rencana pihak lawan bahwa mereka akan menuju Monas dan memilih menyesaki shalat Maghrib berjamaah di Masjid Istiqlal jika jagoannya menang, rupanya tak terendus oleh mereka.




Memang Bundaran HI selama ini adalah kawasan demonstrasi yg strategis. Gambar2 yg direkam di sekeliling air mancur dan patung Selamat Datang yg tegas menjulang itu, selalu menakjubkan.





Apalagi ini Pilkada Jakarta. Rekaman Perayaan Kemenangannya akan terumbar hingga ke mancanegara.
Memenangi Bundaran HI berarti melengkapi Simbol2 Kejayaan.





Tak hanya di tengah kota Jakarta.





Di pulau-pulau yg bertebaran di Teluk Jakarta pun, Pesta Besar Kemenangan telah disiapkan.
Dua puluh tiga sapi besar nan sehat siap mengenyangkan perut-perut manusia di seberang lautan.





Kapal yg disewa khusus untuk mengangkut hewan2 bernilai ratusan juta di hari tenang itu, telah berangkat lebih dahulu.





Sapi2 itu melaju di atas keruhnya lumpur reklamasi dan kapal2 nelayan, tanpa menunggu lebih dulu datangnya hari pencoblosan, maupun menanti selesainya penghitungan suara.





Toh pekik Juara sudah di sudut bibir, harumnya aroma Angka hitung cepat telah tercium, dan gempita Kemenangan sudah di pelupuk mata.





AKHIRNYA, sampailah semua di hari Rabu yang pongah.





Detik demi detik terlalui. Menit demi menit terlampaui, dan jam pun terlewati.
Dan begitulaah...


Cerita berakhir jauh dari harapan.



Mata-mata nanar menatap layar kaca. Hati remuk redam dilanda kegundahan.
Gelap dan kelam.




Kenyataan itu datang bersama sore.
Galau, gulana, dan rasa terhempas mewarnai senja.





Gulita bergayut merata di Pullman, di pancuran HI, di pulau-pulau, di sudut-sudut kota, dan di pelosok-pelosok hati.





Timses ahli merencanakan.
Rakyat cerdas memutuskan.
Dan Tuhan Yang Maha Menentukan.
Hari ini,





terhitung hari Hisab di bawah langit Jakarta itu sudah berlalu sekian hari. Tapi mendung masih menggelayut di sebagian hati warga Jakarta.





Tanpa disadari, kadang proses Pilkada menjadi cerminan watak dan nafsu tentang bagaimana kekuasaan kelak akan dijalankan. Cara kampanye yg brutal dan politik uang menjadi barometer keserakahan.





Sebagian yg bijaksana mengatakan, manusia hanya memanen apa yg dia tanam. Dan setiap dari kita akan Dipaksa mengunduh apapun hasil dari perbuatan.





Memang betul. Merencanakan sebuah Pesta KEMENANGAN itu lebih mudah. Bahkan seolah jadi Keharusan. PADAHAL KEKALAHAN LAH YANG HARUSNYA LEBIH DIPERSIAPKAN.




*Mupon... mupon!


Seringkali nasehat itu seolah hanya berlaku untuk orang lain.





Tak terbayangkan sebelumnya jika kata-kata yg mudah meluncur dari bibir kotak-kotak itu, bahkan tidak pernah pergi kemana-mana. Karena nasehat itu ternyata diperlukan untuk mengobati perih di diri mereka sendiri.
Jadii..




Tak perlu lagi kita sarankan Mupon. Toh kata berbalut canda itu tengah mereka nikmati. Lebih baik kita semua berdoa untuk keselamatan negeri.





Seperti kalimat pepatah-petitih nan bijak, "Pain comes with time.. but Time will heal the pain."
Semoga sang Waktu akan menyembuhkan luka-luka itu.





Semoga rangkaian kalimat di papan-papan itu bisa memulihkan lara yang terlanjur merobek jiwa.
Semoga Ribuan Bunga-Bunga dapat mendamaikan hati yang terlanjur menganga.





TIME WILL DO THE MUPON.
PERCAYALAH...












sumber >> ngelmu.id

Kamis, 27 April 2017

GEMPAR..!!! Sekda DKI Saefullah Terkejut Disebut Bakal Dipecat Anies, Ternyata Ini Alasanya..!!!





Wakil ketua DPRD Jakarta Mohammad Taufik yakin jika Satuan kerja Perangkat Daerah (SKPD) di Pemerintah provinsi DKI akan dirombak apabila pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno resmi menjabat gubernur dan wakil gubernur Jakarta Oktober mendatang.

"Pasti lah, masa enggak ada.Harus yang se-visi dong dengan gubernur Gak mungkin dong orang lain," kata Taufik di Jalan Cicurug, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa, (25/4/2017).
Termasuk, jabatan Sekretaris Daerah (sekda) yang kini dijabat oleh 
Saefullah.
Menanggapi ucapan Taufik, Saefullah mengaku terkejut.
"Dipecat? Dipecat bagaimana? Saya baru dengar kata-katanya," kata Saefullah kepada wartawan di Balai Kota Jakarta.
Dirinya menyebut belum mendengar soal pemecatan dirinya sama sekali. Kepada wartawan, ia meminta langsung menanyakan kepada Anies-Sandi.
"Saya gak tau. Saya gak pernah dengar kata dipecat. Tanya aja sama mereka," katanya.
Lebih lanjut, Saefullah mengatakan jika nantinya ia dipecat itu merupakan kewenangan gubernur.
"Saya gak tau ya soal jabatan, saya gak tau. Itu wewenang gubernur, disini saya hanya kerja melaksanakan tugas," kata Saefullah.
Sebelumnya diberitakan Wakil Ketua Tim Pemenangan Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih Anies Baswedan dan Sandiaga Uno, Mohammad Taufik mengatakan, kemungkinan ‎kursi Sekda diisi orang baru, apalagi Saefullah termasuk orang yang tidak percaya Anies-Sandi akan menang.
"Saefullah enggak yakin kita menang. Kalau tahu enggak yakin kita menang, gimana?" katanya.
Menurut Taufik jajaran Satuan Kerja perangkat Daerah (SKPD) haruslah yang satu visi-misi dengan Anies-Sandi.
Hal itu agar program pembangunan yang telah dirancang dapat dijalankan dengan baik.
"Nanti kita omongin sama Anies-Sandi. Menurut saya harusnya gitu. Anies bilang kan gerakan, supaya di dalam sama geraknnya, satu visi," katanya.



sumber >> posmetro.info

MENGEJUTKAN..!! GNPF akan Aksi Lagi, Kapolda: Sudah Cukup, Masyarakat Capek






Kapolda Metro Jaya Irjen M Iriawan meminta massa Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) untuk tidak menggelar aksi lagi. Masyarakat sudah lelah dengan banyaknya aksi-aksi tersebut.

"Aksi apa lagi? Sudah cukuplah, mau aksi apa lagi?," ujar Iriawan usai menghadiri Grand Launching Aplikasi Halopolisi di Depok Police Expo2, Margo City, Jl Margonda Raya, Kota Depok, Kamis (27/4/2017).

Selama ini, massa GNPF sudah sering melakukan aksi-aksi. Dari aksi ke aksi, tuntutan massa yaitu persoalan hukum terhadap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) yang saat ini menjadi terdakwa kasus penistaan agama.


Aksi-aksi tersebut dinilai telah menguras energi bangsa. Untuk itu, Iriawan mengimbau kepada massa untuk tidak lagi melakukan aksi. Sebab, Ahok sudah diproses secara hukum.

"Kan sudah juga itu, kan sudah ditangani (diproses secara hukum), itu bukan ranah saya. Namun saya sampaikan enggak usah lagi, sudah cukup. Masyarakat kita sudah cukup capek melihat aksi tersebut, jadi sudah cukuplah," beber Iriawan.

Massa diminta menghormati proses hukum yang sedang berjalan terhadap kelanjutan nasib Ahok. Iriawan menyebut tidak akan memberikan izin aksi massa.

"Yang jelas kalau mereka turun kita tidak mengizinkan. Untuk apalagi, kan saudara Ahok sudah ditangani secara hukum, kita percayakan kepada pengadilan. Jadi untuk apa lagi?," sambungnya.

Masyarakat diminta untuk menyudahi semua kegaduhan. Sebaliknya, Iriawan mengajak warga Jakarta untuk bersatu kembali membangun ibu kota yang lebih baik.

"Kita sudahi selesai semuanya, mari kita kembali membangun rakyat ini untuk kembali semangat bekerja, sehingga masyarakat tidak ada lagi kewas-wasan, kecemasan. Cemas sekali masyarakat ini, jangan dibuat cemas teruslah," ujarnya.

Massa GNPF akan melakukan aksi di depan eks gedung PN Jakarta Pusat di Jl Gajah Mada, Jakarta Pusat, Jumat (28/4) besok. Massa rencananya akan longmarch dari Masjid Istiqlal hingga ke titik lokasi aksi.




Sumber >> nkribersatu.com

Gemparrr..!!! Fadli Zon Sebut Karangan Bunga Pencitraan Murahan,,,! Ini Kata Djarot,,,

Gemparrr..!!! Fadli Zon Sebut Karangan Bunga Pencitraan Murahan,,,!  Ini Kata Djarot




Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat menanggapi santai pernyataan Wakil Ketua DPR Fadli Zon yang menyebut ribuan karangan bunga di Balai Kota sebagai pencitraan murahan. Djarot mengatakan apa pun yang diberikan oleh warga adalah sesuatu yang mahal.




"Pencitraan? Pencitraan murahan? Nggak apa-apa sih, tapi bagi kami itu suatu hal yang mahal, satu hal mulia," kata Djarot sambil tersenyum di Balai Kota, Jalan Medan Selatan, Jakarta Selatan, Kamis (27/4/2017).





Kiriman karangan bunga tersebut, bagi Djarot, merupakan suatu hal yang berharga. Apalagi ribuan karangan bunga tersebut berisi semangat yang berasal dari warga Jakarta.




"Satu hal yang berharga mendapatkan apresiasi yang tulus dari warga Jakarta," ujarnya.





Baginya, apresiasi ini menjadi sejarah tersendiri selama dia menjabat Wakil Gubernur DKI. Meski ada pihak yang tidak suka atas perhatian warga ini, Djarot tetap mengucapkan terima kasih kepada warga.





"Disampaikan dengan penuh cinta, dengan penuh bunga, bunga itu kan tanda cinta. Jadi terima kasih," tuturnya.






sumber >> news.detik.com